Aku ga mau jadi Marketing!... Kata Anjie, teman marketing saya di kantor. Saya Tanya: Kenapa? “Marketing itu susah! Harus cari nasabah, mutar-mutar kota, mendatangi orang yang kita belum kenal sebelumnya, belum lagi target nominal yang terlalu besar untuk pemula. Benar-benar pekerjaan yang tidak ideal, ga masuk akal…” jawab Anjie.”Belum lagi kalo kita ga target, pasti dimarah-marahin sama atasan. Aku ga bisa kerja gini. Aku mau jadi pengusaha aja, jadi aku bisa bebas, ga ada yang ngatur-ngatur, ga ada yang bakal marahin. Aku juga ga bakalan jadi orang yang digaji, tapi aku yang menggaji orang….!”
Demikian argumentasi Anjie sebelum di memutuskan untuk berhenti bekerja...
Aku ga mau jadi Marketing!... Kata Anjie, teman marketing saya di kantor. Saya Tanya: Kenapa? “Marketing itu susah! Harus cari nasabah, mutar-mutar kota, mendatangi orang yang kita belum kenal sebelumnya, belum lagi target nominal yang terlalu besar untuk pemula. Benar-benar pekerjaan yang tidak ideal, ga masuk akal…” jawab Anjie.”Belum lagi kalo kita ga target, pasti dimarah-marahin sama atasan. Aku ga bisa kerja gini. Aku mau jadi pengusaha aja, jadi aku bisa bebas, ga ada yang ngatur-ngatur, ga ada yang bakal marahin. Aku juga ga bakalan jadi orang yang digaji, tapi aku yang menggaji orang….!”
Demikian argumentasi Anjie sebelum di memutuskan untuk berhenti bekerja di kantor. Setelah melewati masa training 3 bulan, mungkin dia merasa tidak cocok untuk bekerja sebagai arketing. Tidak salah memang kalo ada orang yang merasa tidak cocok bekerja sebagai marketing. Tapi kalo ada marketing yang ngga mau ditarget, itu bisa jadi dilemma bagi diri kita sendiri. Kenapa? Ya, bukankah kita sendiri dalam hidup tidak pernah terlepas dari target? Kita secara tidak sadar pasti meargetkan bahwa kita pada usia sekian sudah lulus kuliah, sudah bekerja di kantor ini, sudah punya rumah di usia sekian dan sabagainya. Lalu? Yang pasti semua target itu hanya bisa tercapai jika kita berusaha dan berdoa, karena hasil yang kita capai semata-mata karena keridhoan Allah SWT saja.
Jadi yang kita takutkan kita tidak bisa mencapai target sebetulnya bukan menjadi momok utama. Solusinya adalah, bagaimana caranya kita bisa mencapai target yang telah diberikan dengan berusaha keras, berpikir inovatif, dan bekerja cerdas. Sulit? Sudah pasti. Karena di dunia kerja kita harus memberikan pembuktian diri bahwa kita memang memiliki daya analisa serta pantas menyandang predikat Sarjana. Bukan hanya sarjana di atas kertas semata-mata.
Blalu bagaimana dengan Anjie? Ya, tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Karena kadang-kadang orang yang kita anggap telah salah langkah, malah kelak bisa jadi lebih berhasil dari kita. Jadi sebaiknya tidak perlu mencibir orang lain yang sekilas terkesan melakukan keputusan yang aneh, “Zaman sekarang, nyari kerja susah kok malah memutuskan berhenti dari kerja?”. Tapi itulah keputusan Anjie. Akan lebih baik jika kita melihat bagaimana bapak Tirta Utama yang pernah dianggap aneh karena menjual air bermerk Aqua, ternyata dia berhasil. Seharusnya seperti itulah cara kita memandang orang lain, sehingga kita juga tidak terbebani dosa yang samar. Good Luck ya Anjie! Semoga menjadi pengusaha yang berhasil!!!!
.jpg)
Pindah ke Pasuruan… berat juga nih. Harus ngurus masalah funding (nyari Tabungan n Deposito) sekaligus mengurus masalah kredit juga! Pikiran-pikiran yang memberatkan langsung datang di otak. Sanggup kah? Tapi ga ada yang ga mungkin, meski berat dan sulit, tapi “Inna ma’al usri yusroo” : sesungguhnya dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Logikanya gini, setelah tanjakan yang berat kita pasti menemui turunan yang lempang....
Pindah ke Pasuruan… berat juga nih. Harus ngurus masalah funding (nyari Tabungan n Deposito) sekaligus mengurus masalah kredit juga! Pikiran-pikiran yang memberatkan langsung datang di otak. Sanggup kah? Tapi ga ada yang ga mungkin, meski berat dan sulit, tapi “Inna ma’al usri yusroo” : sesungguhnya dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Logikanya gini, setelah tanjakan yang berat kita pasti menemui turunan yang lempang, iya ga? So, tetap bekerja dan berdoa aja, usaha dari kita dan selebihnya kita serahkan hasilnya dengan perkenan Allah SWT.
Nah, balik lagi ke pikiran-pikiran yang memberatkan, sejak di Pasuruan, ada gejala fisik baru pada saya. Apa itu? Yaaa, ga ngeri-ngeri amat sih, Cuma keringatan di bagian belakang bawah kepala. Padahal di kantor kan ruangan nya ber-AC, dingin gitu. Tapi kayaknya emang gara-gara kepikiran masalah-masalah yang harus dibenahi di kantor, jadinya jadi kayak gitu. Lantas? Naah, kalo bercermin dari cerita Abu Nawas yang diusir dari Baghdad keluar kota oleh Khalifah, dimana dia boleh kembali ke Baghdad dengan syarat tidak boleh berjalan, menyentuh tanah, dan menunggang orang atau keledai, Abu Nawas benar-benar dihadapkan ke masalah yang mengharuskan dia berpikir berat mencari cara balik ke rumahnya di Baghdad. Panik kah Abu Nawas? Tidak, dia tetap berpikir dan berpikir, karena dia berpikir bahwa berpikir adalah bagian dari menjalani kehidupan, menjalankan akal yang diberikan oleh Tuhan. Hingga dia akhirnya menemukan jalan keluar. Ayo coba, gimana jalan keluarnya?
Lelucon yang bisa anda praktekkan ke teman-teman: “Kalo ada teman sekantor yang ngajak anda sholat: “Eh, sholat Zuhur yuk!”, maka anda bisa menjawab:”Ah, sholat itu kan nomor dua..”
Lelucon yang bisa anda praktekkan ke teman-teman: “Kalo ada teman sekantor yang ngajak anda sholat: “Eh, sholat Zuhur yuk!”, maka anda bisa menjawab:”Ah, sholat itu kan nomor dua..”. Kalo teman anda kaget dan menyahut:”Lho, bisa-bisanya kamu bilang begitu???”.
Anda bisa menjawab:”Yaa memang, sholat itu nomor dua. Kalo yang pertama kan syahadat, kedua sholat, ketiga puasa…dst, sesuai kan dengan Rukun Islam? Heee…
Dipindah ke Pasuruan, sedikit banyak mambuat saya ketinggalan informasi terbaru di kantor Probolinggo. Sibuk dengan target masing-masing. Tapi yang membuat saya ga mnyangka-nyangka, rekan AO saya di kantor, hari ini tidak masuk karena sakit.
Siswo namanya...
Dipindah ke Pasuruan, sedikit banyak mambuat saya ketinggalan informasi terbaru di kantor Probolinggo. Sibuk dengan target masing-masing. Tapi yang membuat saya ga mnyangka-nyangka, rekan AO saya di kantor, hari ini tidak masuk karena sakit.
Siswo namanya. Biasa kita-kita memanggilnya Mas Iwo. AO bagian Usaha Kredit Kecil dan Menengah. Bisa sakit juga (ya iya lah..). kenapa saya heran? Ya, biasanya Mas Iwo yang paling mobile di kantor, ga bisa diam, ga suka menunda-nunda pekerjaan. Tipe pekerja keras, kata teman-teman. Saya sih pernah ikut Mas Iwo keluar kantor. Hasilnya, saya cuma manyun di mobil karena ga bisa ngapa-ngapain. Semua waktu tersita semua untuk urusan Mas Iwo. Gila ni orang, piker saya, ga bisa capek apa…
Pagi-pagi hari Mas Iwo ngajak jalan-jalan dua putra-putrinya, Devin dan Melvin. Naik Corolla DX tahun ’84, keliling kota Probolinggo. What a good father. Selain cinta keluarga, Mas Iwo juga pecinta Corolla DX. Saking punya hobi ini, saya sampe dimintai tolong ngebikinin stiker bertuliskan COROLLA DX Community. Oke lah, dan saya kasih bonus tag di bawah tulisannya “Drive save, Drive comfortable”. Sesuai dengan gaya menyetirnya save dan ternyata comfortable (bagi keluarganya aja sih, kalo bagi saya tetap tidak comfortable, kalo nyetir sampe ngepot-ngepot gitu dehh…). But anyway, I can say Mr. Iwo was a workaholic, but…. Super Iwo was not a Superman